DON’T BELIEVE TV…..!!!!

May 13th, 2008

Don’t believe tv…pesan saya kepada semua masyarakat indonesia. Karena televisi sudah banyak menampilkan kebohongan-kebohongan kepada pemirsanya.

Anda yang suka acara reality show idola2an, apakah anda percaya hasil polling sms itu benar. Prosentase sms yang diproleh masing-masing peserta itu valid? Kalu itu benar apakah Stasiun televisi mau memperlihatkan data base sms yang masuk.

Bagi anda pecinta acara reality show cinta, apakah anda percaya bahwa cerita yang ditampilkan benar. Konflik2 yang terjadi?

Jangan percaya pada apa yang anda lihat di televisi. Tulisan ini mengajak para pembaca untuk dewasa dalam menyikapi sebuah tontonan. Atraksi gulat WCW yang sudah membawa korban anak-anak, itu karena orang tua tidak bisa memberi pemahaman bahwa TELEVISI itu media hiburan. 99% hiburan dan 1% informasi. Maka sebagai media hiburan ya dinikmati bukan ditiru.

Semua acara televisi itu ada skenario dan sutradara

Indonesia: Bangsa Pemberontak. Bangsa Tidak Mau Kalah..apalagi ngalah

May 4th, 2008

Bukan bermaksud menghujat bangsa sendiri, hanya sekedar beropini .
Menengok kembali ke belakang jauuh sebelum negara indonesia berdiri. Nusantara terdiri dari banyak kerajaan yang pada akhirnya “disatukan” oleh Gadjah Mada melalui sumpah palapanya.
“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa “
Ada kerajaan tarumanegara, kutai, kerajaan sunda dan kerajaan galuh, dan masih banyak lagi.
Dari sekian banyak kerajaan jika kita pelajari pergantian raja2nya adalah dari pemberontakan ke pemberontakan. Tidak puas akan kepemimpinan Raja A, maka dijatuhkan oleh B yg kemudian jadi raja. Pengikut Raja A tersingkir dan membikin gerakan yang pada akhirnya memberontak lagi. Memimpin lagi. Di lain pihak C sedang menyusun kekuatan untuk menghancurkan A dan B.

Sama seperti pemerintahan Indonesia sekarang. Mungkin karena para pejabat pemerintah masih ada keturunan raja2 nusantara maka watak dan perilakunya sama.

Bangsa indonesia mempunyai sifat tidak mau kalah apalagi ngalah.
Pihak yang kalah selalu mencari-cari kelemahan2 yang menang. Kemudian berusaha menumbangkan. Kalau tidak nemu kesalahan maka fitnah yang dikeluarkan.

Meminjam kasus PILKADA di indonesia. Hampir di semua daerah yang menyelenggarakan pilkada, pihak yang kalah selalu tidak puas dg hasil akhir penghitungan suara. Dibilang curang lah, ada pemilih gelap lah, suara tidak sah ikut dihitung lah, dan pada ujungnya keributan dan tindakan anarkis.

Bagaimana mau membangun daerah kalau masalah pemilihan kepala daerah saja tidak bisa. Paska pemilihan yang seharusnya membicarakan langkah2 pembangunan dihabiskan untuk menanggapi gugatan ini gugatan itu. Kepala daerah terpilih menjadi bahan hujatan bagi yang tak terpilih. Daripada menghujat kan lebih baik mendukung pemerintahan yang baru. Buktikan anda lebih baik daripada yang lain.

Sampai kapan indonesia sibuk dengan derajat dan pangkat?
Sampai kiamatpun tak akan selesai, karena memang bangsa indonesia adalah bangsa PEMBERONTAK.
Siapapun pemimpinnya selalu akan dijelek2kan dan dijatuhkan.

Festival Film Bandung: festival buat siapah..atuh..?

May 3rd, 2008

Pada tanggal 29 april yang lalu diselenggarakan Festival Film Bandung (FFB). FFB sebagai salah satu pestanya orang film. FFB memberikan penghargaan kepada insan2 film dan sinetron di indonesia. Pada penyelenggaraan tahun ini terpilih Nirina dan ‘Fachri’ nuril sebagai aktris dan aktor terpuji. Hanung Bramantyo sang putra mataram mendapat penghargaan di bumi pajajaran sebagai Sutradara terpuji. Dan Ayat2 cinta sebagaqi film terpuji. Dan sederetan nama2 terkenal lain yang mendapat penghargaan. FFB teleh terselenggara selama 21 tahun dan baru pertama kalinya dihadiri menteri. Itupun karena menterinya pernah kuliah di Bandung (ITB..red). Hadir juga Dede Yusuf wakil gubernur terpilih, serta beberapa insan film dan sinetron.

Yang mengherankan adalah, tidak hadirnya insan2 film indonesia seperti Riri Reza, mira Lesmana, Nia Dinata, dan sederetan nama terkenal lainnya. FFB diselenggarakan buat siapa sih? Buat film2 dan sinetron yang masuk nominasi? Saya rasa bukan. Setiap Festival, entah itu FFB, FFI, Indonesian movie award, atau apapun namanya diselenggarakan untuk menghargai insan film. Festival Film adalah pesta orang2 film, bukan pestanya film nominasi. Melirik festival2 internasional. Setiap diadakan festival film para pekerja film menhentikan shooting dan menghadiri festival. Karena mereka merasa ini pesta mereka, siapa lagi yang akan meramaikan. Beda sekali denghan Indonesia. Para pekerja filmya sudah seperti politikus. Maen geng-geng an. Antar geng tidak ada yang akur. Membuat festival tandingan, geng yang merasa tersaingi ngambek. Membuat satment di medias massa menjelek2kan yang lain. Sama sekali tidak ada mental kompetisi. Kasus Eskul, para sineas mengembalikan piala2 yang mereka dapat. IRI atau memperjuangkan idealisme sih kalian? Mari kita semua bersikap dewasa. Tidak mendapat penghargaan bukan berarti jelek. Begitu juga sebaliknya. Festival adalah pesta para sineas, ya mari diramaikan. Didukung. Sukses perfilman indonesia!